Berdiskusi dengan akal sehat

Suatu hari, Abunawas didatangi oleh sekelompok orang untuk membahas berbagai hal yang telah menimbulkan permasalahan. Orang-orang ini sibuk mengemukakan argumentasi mereka, namun sayangnya argumentasi itu tidak didasarkan pada fakta, melainkan hanya dugaan-dugaan.

Setelah mendengarkan mereka bicara, Abunawas mengajukan pertanyaan,”Berapa kaki yang dimiliki seekor kambing bila ekornya kalian sebut kaki juga?

Lima“, jawab mereka serempak.

Tidak“, kata Abunawas,”tetap saja empat kaki. Menyebut ekor sebagai kaki bukan berarti membuat ekor itu benar-benar menjadi kaki“.

Kisah diatas menggambarkan situasi/kondisi dimana ada sebuah perdiskusian, berkumpul untuk bertukar fikiran dan pendapat demi mencapai suatu penyelesaian masalah (solusi). Seringnya malah terjadi sikap ngotot-ngototan untuk mempertahankan argumentasi masing-masing. Namun, apa hasilnya? Yang terjadi keegoan yang ditonjolkan dengan atas nama “mempertahankan harga diri”. Sudah? Solusi tak diperoleh, perpecahan dan permusuhan yang terjadi.

Penengah masalah (penasehat) harus bisa berdiri di tengah-tengah. Dapat memberikan masukan/saran/nasehat yang bisa dibenarkan maupun membenarkan. Orang bijak tidak hanya pandai/cerdas berkata-kata, namun orang bijak juga harus bisa mengkoreksi diri serta memperbaiki diri sebagai contoh dari orang lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s