Berharaplah hanya kepada Allah

Ingatlah wasiatku ini, wahai murid-muridku. Berharaplah akan mendapat pahala dari Allah. Kejahatan akan dikembalikan kepada dirimu, hilangkanlah dia dengan taat, matikanlah dia dengan kebajikan, potonglah dia dengan tidak mengharapkan sesuatu dari selain Allah, basmilah dia dengan rasa malu terhadap Tuhan, karena Tuhan itu pelindungmu! Berlomba-lombalah berbuat semua kebajikan, yang kamu kerjakan dalam segala tingkat hidupmu, meskipun hatimu merasa takut menerimanya.

Ummat manusia yang baik ialah mereka yang tidak terpengaruh akhiratnya oleh dunianya, dan tidak pula meninggalkan dunianya sama sekali karena akhiratnya. Sebaik-baiknya kelakuan ialah tahan menderita kesukaran dan kesakitan, sedikit marah, luas belas kasihan, dan indah tutur kata serta lemah lembut.

Orang yang dzalim itu akan kiamat meskipun dipuji orang, orang yang didzalimi itu selamat meskipun dicela orang. Orang yang selalu merasa puas itu termasuk orang kaya, meskipun ia lapar, sedang orang yang selalu merasa kecewa itu termasuk orang fakir, meskipun ia memiliki harta yang berlimpah-limpah.

Merdeka dari dunia

Hakikat syukur menurut ahli adalah pengakuan terhadap nikmat yang telah diberikan kepada seseorang yang dibuktikan dengan ketundukannya. Realisasi syukur dapat dibagi kepada beberapa bentuk, syukur dengan lisan ialah berupa pengakuan dengan lidahnya akan nikmat -Nya, syukur dengan anggota tubuh ialah mempergunakan nikmat itu dalam mentaati Tuhannya, dan syukur dengan hati ialah pengakuan serta membesarkan yang memberikan nikmat.

Barangsiapa yang masuk ke dunia sedang dia telah bebas dan merdeka dari pengaruh dan penguasaan dunia, maka dia akan berpindah ke akhirat dalam keadaan merdeka. 

Doa adalah kunci segala macam keperluan, doa adalah kelapangan bagi orang yang sedang berusaha dan berharap mencapai tujuan hidupnya. Tempat lari bagi orang yang terjepit, dan tempat bernafas bagi orang yang dalam ketakutan. Tuhan Sang Pemilik Kehidupan telah mencela bagi orang yang tidak mau berdoa.

Keabadian masalah

Apa tujuan siklus kesengsaraan dan kekerasan dan ketakutan masa ini? Pasti ada suatu tujuan, jika tidak maka alam semesta ini diatur oleh kebetulan-kebetulan, yang tentu saja tak masuk akal. Tapi apa tujuannya? Inilah masalah abadi yang tak pernah ditemukan jawabannya oleh akal manusia.

Agama sangat membutuhkan deduksi. Seorang pemikir bisa menjelaskan hal ini sebagai sains yang ketat. Keyakinan tentang Yang Maha Kuasa ibaratkan bersandar pada bunga. Semua hal yang lain, kekuatan, hasrat, makanan, sangat penting untuk kehidupan. Tapi bunga mawar ini adalah suatu tambahan. Aroma dan warnanya adalah hiasan untuk hidup, bukan sekedar sesuatu yang hidup. Hanya kebaikan yang dapat memberikan tambahan untuk keindahan ini, jadi semua manusia memiliki harapan besar dari bunga.

Hakikat Ikhlas

Ikhlas menurut orang Sufi ada 2 macam :

  1. ikhlas dalam berbuat, dan
  2. ikhlas dalam menuntut imbalan dari perbuatannya

Ikhlas dalam berbuat, ialah motif dalam perbuatan itu hanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, membesarkan nama -Nya dan menunaikan seruan -Nya, yang demikian itu hanya lahir dari iman yang kuat. Dan lawan dari ikhlas adalah nifak, yaitu mendekatkan diri selain Tuhan Sang Maha Pencipta.

Ikhlas dalam menuntut imbalan, ialah yang menjadi pendorongnya dalam berbuat baik itu semata ingin mencapai kebahagiaan akhirat, dan sebagai lawannya adalah raja’, yaitu keinginan mendapatkan imbalan di dunia dengan memperbuat perbuatan akhirat, dan imbalan ini mungkin dari Tuhan dan mungkin juga dari manusia.

Ikhlas dalam berbuat yang menyebabkan sesuatu perbuatan menjadi ibadah dan ikhlas dalam menuntut imbalan, menyebabkan ibadahnya diterima dan diberi pahala berlipat ganda. Sedang nifak yang menyebabkan sesuatu perbuatan keluar dari perbuatan ibadah dan riya’ yang menyebabkan perbuatan tadi tertolak.

Ketahuilah, segala perbuatan menurut orang Sufi terbagi kepada tiga macam, yaitu :

  1. perbuatan yang harus ada dalam memperbuatnya kedua bentuk ikhlas seperti dalam ibadah lahiriah,
  2. perbuatan yang sama sekali tidak diperlukan ikhlas, seperti perbuatan-perbuatan yang menunjukkan kebolehan, 
  3. dan dalam perbuatan ibadah batiniyah hanya memerlukan satu macam ikhlas saja yaitu ikhlas dalam berbuat.

Aku Melihat Allah

Sungguh aku melihat Allah Pelindungku dan Pencipta diriku, dan pula aku mengenal -Nya maka kusujud dengan shalat. Aku menyaksikan dalam segala sesuatu Dia bertitah dengan segala tanda-tanda segala bukti-bukti dan ayat di dalam bintang yang menyerap keasyikan keindahan -Nya, di purnama raya telah nyata betapa besar kemampuan -Nya, gemericik air mengalun puji syukur dan tasbih suci kicau burung membawa nyanyi merdu yang riang mempesona dan di bunga indah penyebar keharuman dengan hembusan lembut.

Tiupan angin yang membawa bau semerbak dibawa bayu, sorotan cahaya menggulung malam dengan pelukan teriring kata selamat tinggal berharap jumpa esoknya, seorang bayi dalam dekapan Ibu yang syahdu, harap-harap kasih sayang -Nya dibawah naungan rahmat -Nya, alam semesta yang megah tak luput bermunajat kepada -Nya, maka Dia, Dia meninggi diatas sifat dan kalimat-kalimat -Nya, aku di persada -Mu hanya seorang hamba cilik yang patuh, tahuku hanya berdo’a dalam rukuk dan sujud kepada -Mu.

Maha Suci Engkau ya Allah Yang Maha Agung, milik -Mu seluruh kerajaan, Engkaulah Dzat Maha Pencipta yang Tunggal, aku ngeri karena aku melihat Dia mengetahui perihalku semua, kepada -Nya aku kembalikan pengaduan-pengaduan untuk selama-lamanya, kemana pula pelarianku dikala derita menimpaku, maka Dia -lah Maha Asih yang Hak dalam semua alasan kesukaran, kemurahan -Nya nan Tunggal disaat aku dalam jepitan duka Dia -lah yang Maha Pemurah Yang Tunggal, yang membimbingku dikala tergelincir di jalan licin, disaat aku dalam kekelaman waktu yang singkat sempit, kutelan bertasbih untuk -Nya, Maha Tinggi Dia kusembah dalam kemuliaan dan keteguhan nan tetap ya Tuhan!

Ku berdo’a dengan sajian sepenuh hati, kumohon maaf dan ampunan atas gelimang dosa-dosaku, kuhampiri -Mu dengan jera teriring pinta, terimalah aku ya Allah dalam pinta do’aku –  Ahmad Utsaman Almaraghi

Benar-benar Cinta

Cinta merasuk ke kedalaman jiwa manusia bukan lantaran keinginan manusia itu sendiri. Melainkan atas kehendak Tuhan. Cinta yang berselimutkan hawa nafsu tak ada bedanya dengan rasa haus yang takkan pernah menemukan pemuasannya.

Sumber kebenaran terletak pada Tuhan, sedangkan pada manusia hanyalah kehendak dan kemauannya yang fana. Begitu banyak pintu kebenaran yang diciptakan Tuhan sehingga memungkinkan manusia untuk mengetuknya dengan jari-jari iman.

Kehidupan adalah tangkai-tangkai yang berkuntum indah, bukan duri yang menusuk jari tatkala seseorang menyentuhnya. Buanglah kata-kata yang tidak perlu. Tulisan yang bermutu berisikan kalimat-kalimat yang tepat.

Sebuah kalimat tidak perlu mengandung kata-kata yang tak dibutuhkan. Sebuah paragraf tidak boleh berisi kalimat yang sia-sia. Begitu juga sebuah lukisan tidak perlu digoreskan garis-garis yang tak perlu, mesin pun jangan memiliki komponen-komponen yang tidak dibutuhkan.

Berani lupakan yang t’lah berlalu

Keberanian adalah kemampuan untuk berdiri dan menyuarakan pendapat, namun keberanian adalah juga kemampuan untuk duduk diam dan mendengarkan – Winston Churchill

Seringkali seseorang takut untuk mengakui ketidaktahuan atas jawaban dari pertanyaan. Tidak ada keberanian mengemukakan jawaban yang tidak diketahui semata-mata karena malu. Padahal hanya cukup menjawab,”Saya tidak tahu tapi saya akan cari jawabannya“. Ingatlah, tak ada orang yang akan mempersalahkan bila jawabannya seperti itu. Sebaliknya mereka malah akan menghargainya dan terlepaslah beban hidup selama ini.

Tak seorangpun pernah hancur karena beban satu hari. Akan tetapi, bila beban hari esok ditambahkan pada beban hari ini, maka beratnya akan lebih daripada yang dapat ditanggung oleh seorang diri saja.

Dikisahkan dalam sebuah kisah spiritual, ada 2 orang rahib sedang berjalan kaki. Jalanan yang harus ditempuh adalah licin dan penuh lumpur. Ditengah jalan mereka melihat seorang wanita cantik yang harus melewati kubangan lumpur, namun wanita tsb kelihatan sangat ragu untuk melakukannya.

Rahib yang lebih tua lalu membopong wanita itu dan kemudian mereka bertiga menyeberangi kubangan tsb. Sampai di jalan yang kering, sang rahib tua lalu menurunkan wanita tsb dengan sopan. Kemudian kedua rahib membungkukkan badan dengan hormat dan melanjutkan perjalanannya.

Singkat cerita, mereka berjalan melintasi lembah, sungai, hutan lebat, dan sepanjang perjalanan rahib yang lebih muda terus berdiam diri. Berjam-jam telah berlalu, sampai akhirnya rahib yang muda berkata kepada sang rahib tua,”Engkau tahu kan, sebagai rahib kita tidak dibolehkan menyentuh wanita?

Rahib yang lebih tua hanya tersenyum dan berkata,”Saudaraku, perempuan tadi sudah aku turunkan berjam-jam yang lalu, tapi mengapa engkau masih terus membopongnya?

Keberanian meninggalkan peristiwa suka maupun duka yang telah terlewati akan menghilangkan beban hidup untuk melangkah ke yang lebih baik. Masa lalu janganlah terus diingat dan menjadi hambatan langkah kehidupan di depan mata. Tinggalkan dan kenanglah sebagai peristiwa pendewasaan diri.